Monday, 18 December 2017

LAPORAN TETAP PRAKTIKUM PANGAN FUNGSIONAL DAN FITOKIMIA PANGAN UJI KUALITATIF FITOKIMIA

LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM PANGAN FUNGSIONAL DAN
FITOKIMIA PANGAN
UJI KUALITATIF FITOKIMIA





NAMA
050XXXXXXXX
Kelompok 1/A
                               


TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016



BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tumbuhan memiliki senyawa aktif yang bersifat fungsional bagi tubuh. Beberapa tumbuhan pun memiliki komponen bioaktif yang sifatnya menonjol sehingga seringkali dimanfaatkan, terutama dalam bidang kesehatan. Harbone et al (2006) menyatakan bahwa maraknya pemanfaatan senyawa fitokimia tumbuhan ini didorong oleh munculnya penelitian – penelitian mengenai pemanfaatan senyawa fitokimia yang mulai menggeser penggunan bahan – bahan kimia.
Sebagian besar tumbuhan memiliki senyawa fitokimia dengan kadar yang berbeda – beda. Sebelum menganalisa kadar senyawa fitokimia lebih lanjut, terlebih dahulu dilakukan uji fitokimia secara kualitatif. Tujuannya adalah untuk memastikan ada tidaknya kandungan senyawa fitokimia pada suatu sampel uji. Analisa kualitatif penting untuk dilakukan agar tidak terjadi kesalahan identifikasi akibat kesamaan sifat komponen lain yang tidak diinginkan.
Komponen bioaktif yang juga dikenal sebagai komponen pangan non gizi merupakan senyawa xenobiotik yang terdapat secara alamiah dalam bahan pangan. Khlorofil pada daun-daunan, karotenoid yang berwarna kuning jingga pada sayuran dan buah-buahan, antosianin yang berwarna ungu, komponen fenolik juga merupakan senyawa bioaktif. Senyawa alamiah ini, meskipun merupakan senyawa xenobiotik, dalam proses ekskresinya dari tubuh tidak menghasilkan senyawa metabolit reaktif dan sering menstimulir aktivitas enzim fase 2 yang bersifat melarutkan dan antikarsinogen. Salah satu keuntungan dari senyawa-senyawa ini adalah sifatnya sebagai antioksidan yang dapat menangkal senyawa radikal sehingga mencegah kerusakan sel.

1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya komponen bioaktif pada sampel yang diuji.


BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Antioksidan
Antioksidan merupakan suatu senyawa yang memperlambat atau mencegah proses oksidasi. Selain itu antioksidan dapat dinyataakan sebagai senyawa senyawa yang dapat mecegah reaksi oksidasi dengan cara menghentikan reaksi radikal bebas. Antioksidan juga diistilahkan dengan zat perendam atau perangkap radikal bebas yaitu subtitusi atau molekul yang dapat bereaksi radikal bebas dan berfungsi menetralkan radikal bebas tersebut. Beberapa jenis daun pandan dimanfaatkan sebagai bahan pewarna dan pewangi makanan serta memilii kandungan kimia seperti alkaloid, saponin, flavonoid dan tannin. Daun pandan banyak ditemukan disekitar dekat pantai pada ketinggian sekitar 100 mdari permukaan laut (Redha, 2010).
2.2. Daun Pepaya
Tanaman pepaya (Carica Papaya, L) merupakan jenis tanaman yang tidak asing bagi masyarakat banyak sekali manfaatnya mulai dari buah, bunga dan daunnya. Salah satu bagian tanaman pepaya yang banyak dimanfaatkan adalah daun pepaya. Daun pepaya muda dapat dibuat sebagai bahan berbagai ragam sayuran. Bagi sebagian orang makan dengan sayur lalap daun pepaya dapat menambah nafsu makan (Khopkar, 2003).
Daun pepaya yang berwarna hijau banyak mengandung klorofil. Kandungan klorofil pada tumbuhan memiliki jumlah yang banyak yaitu rata-rata 1% berat kering. Analisis kandungan klorofil a, klorofil b, dan klorofil total pada beberapa tanaman sayuran menyimpulkan bahwa kandungan klorofil terbesar pada daun pepaya dan memiliki potensi sebagai food suplemen. Klorofil merupakan pigmen tanaman berwarna hijau dan terdapat pada kloroplas di dalam sel daun tanaman dan bagian lain yang berwarna hijau. Klorofil terdapat lima macam yaitu klorofil a, klorofil b, klorofil c, klorofil d dan klorofil e. Klorofil a dan klorofil b terdapat pada tanaman tingkat tinggi sedangkan klorofil c, d, dan e terdapat pada tanaman ganggang (Pitojo, S. 2011).
2.3. Daun Singkong
Daun ubi kayu atau cassava leaves adalah jenis sayur yang berasal dari tanaman singkong. Tanaman ini memiliki nama latin Manihot utilissima atau Manihot esculenta. Ada dua jenis daun ubi kayu yang berfungsi sebagai sayuran, yaitu daun ubi kayu biasa dan daun ubi kayu semaian. Daun singkong biasa yang bertangkai merah tua dengan daun berwarna hijau tua sedangkan daun singkong semaian atau semen (sebutan di daerah Jawa) yang bertangkai merah muda keputihan dengan warna daun hijau muda. Kedua jenis daun tersebut pada dasarnya berasal dari jenis atau varietas tanaman singkong yang sama. Daun singkong biasa berasal dari tanaman singkong yang ditanam untuk diambil umbinya, sedangkan daun singkong semen merupakan hasil dari tanaman singkong yang sudah dipanen.
Kandungan protein daun singkong enam kali lebih banyak dari pada umbinya yaitu 6,2 persen. Demikian pula karoten hanya terdapat pada daunnya dan sama sekali tidak terdapat pada umbinya. Kandungan karoten pada daun singkong yaitu 7052 µg/100 g. Sedangkan kandungan serat kasar dan abu ubi kayu per 100 g yaitu 2,4 g dan 1,2 g. Selain itu daun singkong juga mengandung air sebesar 84,4 g dan bagian yang dapat dimakan sebesar 67 g. (Poedjiaji et al, 2009).

2.4. Daun Pandan
          Daun pandan (Pandanus Amaryllifolius) termasuk family Pandanaceae, genus Pandanus. Pandan wangi tumbuh didaerah tropis dan merupakan tanaman perdu tahunan dengan tinggi 1-2 meter. Khasiat tanaman ini adalah sebagai rempah – rempah, bahan penyedap, pewangi dan pemberi warna hijau pada masakan atau pangan dan bahan baku pembuatan minyak wangi. Selain itu pandan juga digunakan sebagai obat tradisional untuk mencegah rambut rontok, menghitamkan rambut, menghilangkan ketombe, mengobati lemah saraf (neurasthenia), tidak nafsu makan, rematik, akit disertai gelisah. Daun pandan mempunyai kandungan kimia antara lain alkaloid, saponin, flavonoid, tannin, polifenol dan zat warna. Pandan wangi merupakan salah satu tanaman yang potensial untuk menghasilkan minyak atsiri, (Marina, R., 2012)


.
BAB 3
METEDOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Tempat dan Waktu
            Praktikum Pangan Fungsional dan Fitokimia Pangan ini dilaksanakan di laboraturium Kimia Hasil Pertanian, Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Indralaya. Praktikum ini dimulai pada hari Rabu tanggal 21 September 2016 pukul 08.00 WIB sampai dengan selesai.

3.2  Bahan dan Alat
          Alat-alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah : 1) Beaker glass, 2) Gelas ukur, 3) Pipet tetes, 4) Spatula, 5) Tabung reaksi, 6) Timbangan analitik.
          Bahan-bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah : 1) Alkohol, 2) Aquadest, 3) Anhidra asetat, 4) Daun pandan, 5) Daun Singkong, 6), Daun Pepaya 7) HCN 2N, 8) H2SO4, 9) Kloroform, 10) Pereaksi Mayer dan 11) Pereaksi Wagner.

3.3 Cara Kerja
Cara kerja untuk praktikum ini adalah sebagai berikut : Bahan yang digunakan adalah Daun Pandan, Daun Pepaya dan Daun Singkong.

Ø  Persiapan Sampel
1.      Sampel daun segar yang telah diperoleh dikeringkan untuk menurunkan kadar airnya.
2.      Sampel daun yang sudah dikeringkan tersebut dipotong – potong menggunakan gunting.
3.      Kemudian potongan daun tersebut dihaluskan menggunakan blander sampai berbentuk serbuk.
4.      Serbuk daun yang sudah halus siap diamati.
Praktikum uji kualitatif fitokimia terdiri atas 5 percobaan,yaitu uji alkaloid, uji steroid atau triterpenoid, uji saponin, uji flavonoid dan uji fenol hidrokuinon.
A.    Cara Kerja uji alkaloid
1.      Sampel disimpan hingga kering dengan perlakuan penyimpanan suhu ruang dengan keadaan gelap, penyimpanan suhu ruang dalam keadaan terang, serta penyimpanan suhu dingin.
2.      Sebanyak 0,5gram sampel dari masing – masing perlakuan dilarutkan kedalam asam sulfat 2N.
3.      Sampel yang telah dilarutkan kemudian diberi pereaksi mayer dan pereaksi wagner.
4.      Ada tidaknya endapan bewarna diamati.

B.     Cara kerja uji steroid atau triterpenoid
1.      Sampel disimpan hingga kering dengan perlakuan penyimpanan suhu ruang dengan keadaan gelap, penyimpanan suhu ruang dalam keadaan terang, serta penyimpanan suhu dingin.
2.      Sebanyak 0,5gram sampel dilarutkan 2 ml kloroform.
3.      Sampel yang telah dilarutkan diberi 10 tetes anhidra asetat dan 3 tetes asam sulfat pekat. Perubahan warna diamati.

C.    Cara kerja uji flavonoid
1.      Sampel disimpan hingga kering dengan perlakuan penyimpanan suhu ruang dengan keadaan gelap, penyimpanan suhu ruang dalam keadaan terang, serta penyimpanan suhu dingin.
2.      Sebanyak 0,5 gram sampel dari masing – masing perlakuan diberi serbuk magnesium sebanyak 0,1 mg.
3.      Sebanyak 0,4 mL amil alcohol dan 4 mL alcohol dicampur kedalam sampel yang telah diberi serbuk magnesium.
4.      Perubahan warna diamati.

D.    Cara kerja uji saponin
1.      Sampel disimpan hingga kering dengan perlakuan penyimpanan suhu ruang dengan keadaan gelap, penyimpanan suhu ruang dalam keadaan terang, serta penyimpanan suhu dingin.
2.      Sampel sebanyak 0,5 gram dari masing – masing perlakuan dilarutkan dalam asam klorida 2N.
3.      Larutan sampel kemudian dipanaskan dalam penangas air selama 30 menit.
4.      Ada tidaknya busa diamati.

E.     Cara kerja uji fenol atau hidrokuinon
1.      Sampel disimpan hingga kering dengan perlakuan penyimpanan suhu ruang dengan keadaan gelap, penyimpanan suhu ruang dalam keadaan terang, serta penyimpanan suhu dingin.
2.      Sampel sebanyak 0,5 gram dari masing – masing perlakuan diekstrak denga 10 mL etanol 70% dan didiamkan selama 30 menit.
3.      Sebanyak 1 mL hasil ekstraksi diambil dan diberi 2 tetes FeCl3 5%.
4.      Perubahan warna diamati.



BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Hasil
            Hasil dari praktikum Uji Kualitatif Fitokimia adalah sebagai berikut :
No
Uji Fitokimia
Bahan
Standar
Keterangan
1.
Alkaloid




a.      Mayer
1.Daun Singkong
Endapan putih kekuningan



a.      Gelap
+
Endapan putih


b.      Ruang
-
Warna kekuningan


c.       Dingin
-
Warna kekuningan


2.Daun Pandan




a.      Gelap
+
Endapan putih


b.      Ruang
+
Endapan diatas berwarna putih, dibawah kuning


c.       Dingin
-
Warna kekuningan


3.Daun Pepaya




a.      Gelap
+
Endapan putih kekuningan


b.      Ruang
+
Endapan atas kuning pekat


c.       Dingin
+
Endapan diatas berwarna putih, dibawah kekuningan
2.
Flavonoid
1.Daun Singkong
Lapisan berwarna hijau



a.      Gelap
-
Kuning gelap


b.      Terang
+
Hijau


c.       Beku
+
Hijau terang


2.Daun Pandan




a.      Gelap
+
Hijau


b.      Terang
+
Hijau terang


c.       Dingin
+
Hijau terang


3.Daun Pepaya




a.      Gelap
-
Merah


b.      Terang
-
Kuning terang


c.       Beku
-
Kuning
3.
Saponin
1.Daun Singkong
Terbentuk busa



a.      Gelap
+
Sedikit busa


b.      Terang
+
Banyak busa


c.       Dingin
+
Paling sedikit busa


2.Daun Pandan




a.      Gelap
+
Paling sedikit


b.      Terang
+
Sedikit


c.       Beku
+
Paling banyak


3.Daun Pepaya




a.      Gelap
+
Paling sedikit


b.      Terang
+
Sedikit


c.       Dingin
+
Banyak busa
4.
Fenol Hidrokuinon
1.Daun Singkong
Warna hijau/hijau biru



a.       Gelap
-
Coklat kekuningan


b.      Ruang
-
Coklat gelap


c.       Dingin
-
Coklat kekuningan


2.Daun Pandan




a.      Gelap
-
Coklat kekuningan


b.      Ruang
-
Hijau kecoklatan


c.       Dingin
-
Kuning kecoklatan


3.Daun Pepaya




a.      Gelap
-
Kuning kecoklatan


b.      Ruang
-
Kuning kecoklatan


c.       Dingin
-
Kuning kecoklatan/terang
5.
Steroid
1.Daun Singkong
Perubahan menjadi biru/ dari hijau merah



a.      Gelap
-
Hijau lumut


b.      Ruang
-
Coklat


c.       Dingin
-
Coklat dan hijau


2.Daun Pandan




a.      Gelap
-
Coklat


b.      Ruang
-
Coklat dan hijau


c.       Dingin
-
Coklat dan hijau


3.Daun Pepaya




a.      Gelap
-
Merah


b.      Ruang
-
Coklat tua


c.       Dingin
-
Coklat tua









4.2. Pembahasan
Praktikum kali ini tentang uji kualitatif fitokimia yakni untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif dari suatu sampel yang di uji. Sampel yang digunakan pada praktikum ini adalah daun singkong, daun pandan dan daun papaya, masing – masing diberi perlakuan dengan ditumbuk atau dihaluskan menggunakan blander, tujuannya untuk memudahkan untuk dianalisa. Banyak tumbuhan yang mengandung senyawa bioaktif terutama yang terkandung dalam daun. Senyawa bioaktif atau sering disebut aktioksidan yang memiliki kegunaan yang sangat banyak yang baik untuk kesehatan tubuh, terutama untuk mencegah radikal bebas yang dapat menurunkan stamina tubuh yang dapat menyebabkan penyakit dalam tubuh. Kandungan utama antioksidan pada tumbuhan memiliki jenis yang berbeda – beda. Senyawa bioaktif yang paling namyak terkandung didalam daun yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, fenol hidrokuinon dan steroid serta memiliki masing – masing fungsi tersendiri.
Hasil analisis pada praktikum uji kualitatif fitokimia menunjukkan bahwa adanya kandungan senyawa bioaktif pada salah satu sampel yang diuji. Perlakuan penyimpanan yang berbeda terhadap setiap sampel dapat menyebabkan hilangnya komponen senyawa bioaktif yang terdapat didalam daun. Uji alkaloid atau uji pertama yang dilakukan dengan sampel daun singkong, daun pandan dan daun papaya yang sudah dihaluskan, mendapat perlakuan tambahan yaitu dengan menggunakan pereaksi mayer, yang berguna untuk mengetahui ada tidaknya senyawa alkaloid yang terdapat didalam sampel dan tingginya senyawa tersebut sebagai salah satu senyawa bioaktif yang terdapat dalam daun.
Pengujian alkaloid dengan pereaksi mayer pada sampel daun singkong, pandan dan pepaya memiliki kandungan senyawa alkaloid. Senyawa alkaloid banyak terkandung pada sampel daun pepaya seperti yang dilihat pada tabel hasil menunjukkan hasil positif memiliki kandungan senyawa alkaloid yang ditandai dengan adanya endapan putih kekuningan pada seluruh perlakuan baik pada kondisi penyimpanan dingin, gelap dan terang.
Pengujian flavonoid pada beberapa sampel menunjukkan bahwa hasil dari analisa sampel memiliki kandungan senyawa flavonoid yang cukup banyak, tetapi ada perubahan pada sampel yang disimpan pada tempat gelap yang membentuk warna kuning gelap pada sampel daun singkong dan merah pada daun papaya. Pada uji saponin menunjukkan bahwa sampel yang memiliki kandungan saponin paling banyak terdapat pada sampel daun pandan dengan kondisi penyimpanan beku, hal ini sesuai dengan teori bahwa daun pandan banyak memiliki kandungan senyawa saponin didalamnya. Sedangkan pada daun papaya dan daun singkong hanya sedikit kandungannya, hal ini terjadi karena terhentinya reaksi metabolism pada daun papaya.
Uji fenol hidrokuinon menunjukkan bahwa pada daun pandan terdapat senyawa bioaktif jenis fenol hidrokuinon yang ditandai dengan warna hijau, sedangkan pada daun singkon dan papaya tidak terdapat. Terbentuknya senyawa fenol hidrokuinon pada sampel ditandai dengan terbentuknya warna hijau/hijau biru pada saat pengujian. Sedangkan pada uji steroid menunjukkan bahwa tidak memiliki kandungan senyawa bioaktif pada sampel yang diuji. Hasil uji steroid ditunjukkan dengan adanya perubahan warna dari merah menjadi biru/hijau.


BAB 5
KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini adalah sebagai berikut :
  1. Proses penyimpanan pada masing – masing perlakuan dapat menurunkan kandungan senyawa bioaktif pada setiap sampel daun singkong, pandan dan pepaya.
  2. Uji alkaloid menunjukkan bahwa dengan perlakuan penambahan pereaksi mayer memberikan hasil yang positif artinya memiliki kandungan senyawa alkaloid pada masing – masing sampel.
  3. Adanya senyawa alkaloid ditandai dengan adanya endapan putih kekuningan, dari setiap hasil sampel yang diuji.
  4. Perlakuan penyimpanan ruang gelap dapat menyebabkan terjadinya kehilangan senyawa bioaktif seperti saponin.
  5. Hasil analisa uji steroid diperoleh bahwa didalam daun singkong, pandan dan papaya tidak terkandung senyawa steroid.









DAFTAR PUSTAKA
Harborne, J.B. 2006. Metode Fitokimia cara modern Menganalisis Tumbuhan.
Kosasih Pdma Winata. Bandung : ITB.

Khopkar,S.M. 2003. Konsep Kimia Analitik :UI Press,Jakarta.

Pitojo, S. 2011. Effect Of Increasing Surian Leaf and Boiling Time From
Papaya Leaf of Quality Papaya Leaf Wet Noodle.Thesis.Universitas
Andalas. http://journal.universitasandalas.co.id diunduh pada tanggal 26
Maret 2013.
Marina, R. 2012. Potensi Daun Pandan (Pandanus Amaryllifolius) dan Mangkokan (Notophanax Scutellarium) sebagai Repelen Nyamuk Aedes Albopictus. Balai Litbang P2B2 Ciamis, Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jl. Raya Pangandaran Km. 3 Ciamis.

Poedjiadi. Anna & F.M Titin Supriyanti. 2009. Dasar-dasar BIOKIMIA. Jakarta : UI-Press.

Redha, Abdi. 2010. Flavonoid: Struktur, sifat antioksidatif dan peranannya
dalam sistem biologi. Jurnal Berlian Vol. 9. No. 2 september. 2010 196-
202.(respository.polnep.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/149/13.
Abadi.pdf)


Share:

Related Posts:

0 komentar:

Post a Comment