LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM PANGAN FUNGSIONAL DAN
FITOKIMIA PANGAN
UJI KUALITATIF FITOKIMIA
NAMA
050XXXXXXXX
Kelompok 1/A
TEKNOLOGI HASIL PERTANIAN
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Tumbuhan memiliki senyawa aktif yang bersifat fungsional bagi tubuh.
Beberapa tumbuhan pun memiliki komponen bioaktif yang sifatnya menonjol
sehingga seringkali dimanfaatkan, terutama dalam bidang kesehatan. Harbone et al (2006) menyatakan bahwa maraknya
pemanfaatan senyawa fitokimia tumbuhan ini didorong oleh munculnya penelitian –
penelitian mengenai pemanfaatan senyawa fitokimia yang mulai menggeser
penggunan bahan – bahan kimia.
Sebagian besar tumbuhan memiliki senyawa fitokimia dengan kadar yang
berbeda – beda. Sebelum menganalisa kadar senyawa fitokimia lebih lanjut,
terlebih dahulu dilakukan uji fitokimia secara kualitatif. Tujuannya adalah untuk memastikan ada tidaknya
kandungan senyawa fitokimia pada suatu sampel uji. Analisa kualitatif penting
untuk dilakukan agar tidak terjadi kesalahan identifikasi akibat kesamaan sifat
komponen lain yang tidak diinginkan.
Komponen bioaktif yang juga
dikenal sebagai komponen pangan non gizi merupakan senyawa xenobiotik yang
terdapat secara alamiah dalam bahan pangan. Khlorofil pada daun-daunan,
karotenoid yang berwarna kuning jingga pada sayuran dan buah-buahan, antosianin
yang berwarna ungu, komponen fenolik juga merupakan senyawa bioaktif. Senyawa
alamiah ini, meskipun merupakan senyawa xenobiotik, dalam proses ekskresinya
dari tubuh tidak menghasilkan senyawa metabolit reaktif dan sering menstimulir
aktivitas enzim fase 2 yang bersifat melarutkan dan antikarsinogen. Salah satu
keuntungan dari senyawa-senyawa ini adalah sifatnya sebagai antioksidan yang
dapat menangkal senyawa radikal sehingga mencegah kerusakan sel.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum
ini adalah untuk mengetahui ada tidaknya komponen bioaktif pada sampel yang
diuji.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Antioksidan
Antioksidan merupakan suatu senyawa yang memperlambat
atau mencegah proses oksidasi. Selain itu antioksidan dapat dinyataakan sebagai
senyawa senyawa yang dapat mecegah reaksi oksidasi dengan cara menghentikan
reaksi radikal bebas. Antioksidan juga diistilahkan dengan zat perendam atau
perangkap radikal bebas yaitu subtitusi atau molekul yang dapat bereaksi
radikal bebas dan berfungsi menetralkan radikal bebas tersebut. Beberapa jenis
daun pandan dimanfaatkan sebagai bahan pewarna dan pewangi makanan serta
memilii kandungan kimia seperti alkaloid, saponin, flavonoid dan tannin. Daun
pandan banyak ditemukan disekitar dekat pantai pada ketinggian sekitar 100
mdari permukaan laut (Redha, 2010).
2.2. Daun Pepaya
Tanaman pepaya (Carica Papaya,
L) merupakan jenis tanaman
yang tidak asing bagi masyarakat banyak sekali manfaatnya mulai dari buah,
bunga dan daunnya. Salah satu bagian tanaman
pepaya yang banyak dimanfaatkan adalah daun pepaya. Daun pepaya muda dapat
dibuat sebagai bahan berbagai ragam sayuran. Bagi sebagian orang makan dengan
sayur lalap daun pepaya dapat menambah nafsu makan (Khopkar, 2003).
Daun
pepaya yang berwarna hijau banyak mengandung klorofil. Kandungan klorofil pada
tumbuhan memiliki jumlah yang banyak yaitu rata-rata 1% berat kering. Analisis kandungan klorofil a, klorofil b, dan klorofil
total pada beberapa tanaman sayuran menyimpulkan bahwa kandungan klorofil
terbesar pada daun pepaya dan memiliki potensi sebagai food suplemen. Klorofil
merupakan pigmen tanaman berwarna hijau dan terdapat pada kloroplas di dalam
sel daun tanaman dan bagian lain yang berwarna hijau. Klorofil terdapat lima
macam yaitu klorofil a, klorofil b, klorofil c, klorofil d dan klorofil e.
Klorofil a dan klorofil b terdapat pada tanaman tingkat tinggi sedangkan
klorofil c, d, dan e terdapat pada tanaman ganggang (Pitojo, S. 2011).
2.3. Daun Singkong
Daun
ubi kayu atau cassava leaves adalah jenis sayur yang berasal dari
tanaman singkong. Tanaman ini memiliki nama latin Manihot utilissima atau
Manihot esculenta. Ada dua jenis daun ubi kayu yang berfungsi sebagai
sayuran, yaitu daun ubi kayu biasa dan daun ubi kayu semaian. Daun singkong
biasa yang bertangkai merah tua dengan daun berwarna hijau tua sedangkan daun
singkong semaian atau semen (sebutan di daerah Jawa) yang bertangkai
merah muda keputihan dengan warna daun hijau muda. Kedua jenis daun tersebut
pada dasarnya berasal dari jenis atau varietas tanaman singkong yang sama. Daun
singkong biasa berasal dari tanaman singkong yang ditanam untuk diambil
umbinya, sedangkan daun singkong semen merupakan hasil dari tanaman
singkong yang sudah dipanen.
Kandungan
protein daun singkong enam kali lebih banyak dari pada umbinya yaitu 6,2
persen. Demikian pula karoten hanya terdapat pada daunnya dan sama sekali tidak terdapat pada umbinya. Kandungan
karoten pada daun singkong yaitu 7052 µg/100
g. Sedangkan kandungan serat kasar dan abu ubi kayu
per 100 g yaitu 2,4 g dan 1,2 g. Selain itu daun singkong juga mengandung
air sebesar 84,4 g dan bagian yang dapat dimakan
sebesar 67 g. (Poedjiaji et al,
2009).
2.4. Daun
Pandan
Daun
pandan (Pandanus Amaryllifolius) termasuk
family Pandanaceae, genus Pandanus. Pandan wangi tumbuh didaerah
tropis dan merupakan tanaman perdu tahunan dengan tinggi 1-2 meter. Khasiat
tanaman ini adalah sebagai rempah – rempah, bahan penyedap, pewangi dan pemberi
warna hijau pada masakan atau pangan dan bahan baku pembuatan minyak wangi.
Selain itu pandan juga digunakan sebagai obat tradisional untuk mencegah rambut
rontok, menghitamkan rambut, menghilangkan ketombe, mengobati lemah saraf (neurasthenia), tidak nafsu makan,
rematik, akit disertai gelisah. Daun pandan mempunyai kandungan kimia antara
lain alkaloid, saponin, flavonoid, tannin, polifenol dan zat warna. Pandan
wangi merupakan salah satu tanaman yang potensial untuk menghasilkan minyak
atsiri, (Marina, R., 2012)
.
BAB 3
METEDOLOGI PRAKTIKUM
3.1 Tempat dan Waktu
Praktikum Pangan Fungsional dan Fitokimia
Pangan ini dilaksanakan di laboraturium Kimia Hasil Pertanian,
Jurusan Teknologi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya,
Indralaya. Praktikum ini dimulai pada hari Rabu tanggal 21 September 2016 pukul 08.00
WIB sampai dengan selesai.
3.2 Bahan dan Alat
Alat-alat yang digunakan pada
praktikum kali ini adalah : 1) Beaker
glass, 2) Gelas ukur,
3) Pipet tetes, 4) Spatula, 5) Tabung reaksi, 6)
Timbangan analitik.
Bahan-bahan
yang digunakan pada praktikum kali ini adalah : 1) Alkohol, 2) Aquadest, 3) Anhidra
asetat, 4) Daun pandan,
5) Daun Singkong, 6), Daun Pepaya 7) HCN 2N, 8) H2SO4, 9) Kloroform,
10) Pereaksi Mayer dan 11) Pereaksi Wagner.
3.3 Cara Kerja
Cara
kerja untuk praktikum ini adalah sebagai berikut : Bahan yang digunakan adalah
Daun Pandan, Daun Pepaya dan Daun Singkong.
Ø Persiapan Sampel
1. Sampel
daun segar yang telah diperoleh dikeringkan untuk menurunkan kadar airnya.
2. Sampel
daun yang sudah dikeringkan tersebut dipotong – potong menggunakan gunting.
3. Kemudian
potongan daun tersebut dihaluskan menggunakan blander sampai berbentuk serbuk.
4. Serbuk
daun yang sudah halus siap diamati.
Praktikum
uji kualitatif fitokimia terdiri atas 5 percobaan,yaitu uji alkaloid, uji
steroid atau triterpenoid, uji saponin, uji flavonoid dan uji fenol
hidrokuinon.
A.
Cara
Kerja uji alkaloid
1. Sampel
disimpan hingga kering dengan perlakuan penyimpanan suhu ruang dengan keadaan
gelap, penyimpanan suhu ruang dalam keadaan terang, serta penyimpanan suhu
dingin.
2. Sebanyak
0,5gram sampel dari masing – masing perlakuan dilarutkan kedalam asam sulfat
2N.
3. Sampel
yang telah dilarutkan kemudian diberi pereaksi mayer dan pereaksi wagner.
4. Ada
tidaknya endapan bewarna diamati.
B.
Cara
kerja uji steroid atau triterpenoid
1. Sampel
disimpan hingga kering dengan perlakuan penyimpanan suhu ruang dengan keadaan
gelap, penyimpanan suhu ruang dalam keadaan terang, serta penyimpanan suhu
dingin.
2. Sebanyak
0,5gram sampel dilarutkan 2 ml kloroform.
3. Sampel
yang telah dilarutkan diberi 10 tetes anhidra asetat dan 3 tetes asam sulfat
pekat. Perubahan warna diamati.
C.
Cara
kerja uji flavonoid
1. Sampel
disimpan hingga kering dengan perlakuan penyimpanan suhu ruang dengan keadaan
gelap, penyimpanan suhu ruang dalam keadaan terang, serta penyimpanan suhu
dingin.
2. Sebanyak
0,5 gram sampel dari masing – masing perlakuan diberi serbuk magnesium sebanyak
0,1 mg.
3. Sebanyak
0,4 mL amil alcohol dan 4 mL alcohol dicampur kedalam sampel yang telah diberi
serbuk magnesium.
4. Perubahan
warna diamati.
D.
Cara
kerja uji saponin
1. Sampel
disimpan hingga kering dengan perlakuan penyimpanan suhu ruang dengan keadaan
gelap, penyimpanan suhu ruang dalam keadaan terang, serta penyimpanan suhu
dingin.
2. Sampel
sebanyak 0,5 gram dari masing – masing perlakuan dilarutkan dalam asam klorida
2N.
3. Larutan
sampel kemudian dipanaskan dalam penangas air selama 30 menit.
4. Ada
tidaknya busa diamati.
E.
Cara
kerja uji fenol atau hidrokuinon
1. Sampel
disimpan hingga kering dengan perlakuan penyimpanan suhu ruang dengan keadaan
gelap, penyimpanan suhu ruang dalam keadaan terang, serta penyimpanan suhu
dingin.
2. Sampel
sebanyak 0,5 gram dari masing – masing perlakuan diekstrak denga 10 mL etanol
70% dan didiamkan selama 30 menit.
3. Sebanyak
1 mL hasil ekstraksi diambil dan diberi 2 tetes FeCl3 5%.
4. Perubahan
warna diamati.
BAB
4
HASIL
DAN PEMBAHASAN
4.1.
Hasil
Hasil dari praktikum Uji Kualitatif Fitokimia adalah sebagai berikut :
No
|
Uji Fitokimia
|
Bahan
|
Standar
|
Keterangan
|
1.
|
Alkaloid
|
|
|
|
|
a.
Mayer
|
1.Daun Singkong
|
Endapan putih kekuningan
|
|
|
|
a.
Gelap
|
+
|
Endapan putih
|
|
|
b.
Ruang
|
-
|
Warna kekuningan
|
|
|
c.
Dingin
|
-
|
Warna kekuningan
|
|
|
2.Daun Pandan
|
|
|
|
|
a.
Gelap
|
+
|
Endapan putih
|
|
|
b.
Ruang
|
+
|
Endapan diatas berwarna putih, dibawah kuning
|
|
|
c.
Dingin
|
-
|
Warna kekuningan
|
|
|
3.Daun Pepaya
|
|
|
|
|
a.
Gelap
|
+
|
Endapan putih kekuningan
|
|
|
b.
Ruang
|
+
|
Endapan atas kuning pekat
|
|
|
c.
Dingin
|
+
|
Endapan diatas berwarna putih, dibawah kekuningan
|
2.
|
Flavonoid
|
1.Daun Singkong
|
Lapisan berwarna hijau
|
|
|
|
a.
Gelap
|
-
|
Kuning gelap
|
|
|
b.
Terang
|
+
|
Hijau
|
|
|
c.
Beku
|
+
|
Hijau terang
|
|
|
2.Daun Pandan
|
|
|
|
|
a.
Gelap
|
+
|
Hijau
|
|
|
b.
Terang
|
+
|
Hijau terang
|
|
|
c.
Dingin
|
+
|
Hijau terang
|
|
|
3.Daun Pepaya
|
|
|
|
|
a.
Gelap
|
-
|
Merah
|
|
|
b.
Terang
|
-
|
Kuning terang
|
|
|
c.
Beku
|
-
|
Kuning
|
3.
|
Saponin
|
1.Daun Singkong
|
Terbentuk busa
|
|
|
|
a.
Gelap
|
+
|
Sedikit busa
|
|
|
b.
Terang
|
+
|
Banyak busa
|
|
|
c.
Dingin
|
+
|
Paling sedikit busa
|
|
|
2.Daun Pandan
|
|
|
|
|
a.
Gelap
|
+
|
Paling sedikit
|
|
|
b.
Terang
|
+
|
Sedikit
|
|
|
c.
Beku
|
+
|
Paling banyak
|
|
|
3.Daun Pepaya
|
|
|
|
|
a.
Gelap
|
+
|
Paling sedikit
|
|
|
b.
Terang
|
+
|
Sedikit
|
|
|
c.
Dingin
|
+
|
Banyak busa
|
4.
|
Fenol Hidrokuinon
|
1.Daun Singkong
|
Warna hijau/hijau biru
|
|
|
|
a. Gelap
|
-
|
Coklat kekuningan
|
|
|
b. Ruang
|
-
|
Coklat gelap
|
|
|
c. Dingin
|
-
|
Coklat kekuningan
|
|
|
2.Daun Pandan
|
|
|
|
|
a.
Gelap
|
-
|
Coklat kekuningan
|
|
|
b.
Ruang
|
-
|
Hijau kecoklatan
|
|
|
c.
Dingin
|
-
|
Kuning kecoklatan
|
|
|
3.Daun Pepaya
|
|
|
|
|
a.
Gelap
|
-
|
Kuning kecoklatan
|
|
|
b.
Ruang
|
-
|
Kuning kecoklatan
|
|
|
c.
Dingin
|
-
|
Kuning kecoklatan/terang
|
5.
|
Steroid
|
1.Daun Singkong
|
Perubahan
menjadi biru/ dari hijau merah
|
|
|
|
a.
Gelap
|
-
|
Hijau lumut
|
|
|
b.
Ruang
|
-
|
Coklat
|
|
|
c.
Dingin
|
-
|
Coklat dan hijau
|
|
|
2.Daun Pandan
|
|
|
|
|
a.
Gelap
|
-
|
Coklat
|
|
|
b.
Ruang
|
-
|
Coklat dan hijau
|
|
|
c.
Dingin
|
-
|
Coklat dan hijau
|
|
|
3.Daun Pepaya
|
|
|
|
|
a.
Gelap
|
-
|
Merah
|
|
|
b.
Ruang
|
-
|
Coklat tua
|
|
|
c.
Dingin
|
-
|
Coklat tua
|
4.2.
Pembahasan
Praktikum kali ini tentang
uji kualitatif fitokimia yakni untuk mengetahui kandungan senyawa bioaktif dari
suatu sampel yang di uji. Sampel yang digunakan pada praktikum ini adalah daun
singkong, daun pandan dan daun papaya, masing – masing diberi perlakuan dengan
ditumbuk atau dihaluskan menggunakan blander, tujuannya untuk memudahkan untuk
dianalisa. Banyak tumbuhan yang mengandung senyawa bioaktif terutama yang
terkandung dalam daun. Senyawa bioaktif atau sering disebut aktioksidan yang
memiliki kegunaan yang sangat banyak yang baik untuk kesehatan tubuh, terutama
untuk mencegah radikal bebas yang dapat menurunkan stamina tubuh yang dapat
menyebabkan penyakit dalam tubuh. Kandungan utama antioksidan pada tumbuhan
memiliki jenis yang berbeda – beda. Senyawa bioaktif yang paling namyak
terkandung didalam daun yaitu alkaloid, flavonoid, saponin, fenol hidrokuinon
dan steroid serta memiliki masing – masing fungsi tersendiri.
Hasil analisis pada
praktikum uji kualitatif fitokimia menunjukkan bahwa adanya kandungan senyawa
bioaktif pada salah satu sampel yang diuji. Perlakuan penyimpanan yang berbeda
terhadap setiap sampel dapat menyebabkan hilangnya komponen senyawa bioaktif
yang terdapat didalam daun. Uji alkaloid atau uji pertama yang dilakukan dengan
sampel daun singkong, daun pandan dan daun papaya yang sudah dihaluskan,
mendapat perlakuan tambahan yaitu dengan menggunakan pereaksi mayer, yang
berguna untuk mengetahui ada tidaknya senyawa alkaloid yang terdapat didalam
sampel dan tingginya senyawa tersebut sebagai salah satu senyawa bioaktif yang
terdapat dalam daun.
Pengujian alkaloid dengan
pereaksi mayer pada sampel daun singkong, pandan dan pepaya memiliki kandungan
senyawa alkaloid. Senyawa alkaloid banyak terkandung pada sampel daun pepaya
seperti yang dilihat pada tabel hasil menunjukkan hasil positif memiliki
kandungan senyawa alkaloid yang ditandai dengan adanya endapan putih kekuningan
pada seluruh perlakuan baik pada kondisi penyimpanan dingin, gelap dan terang.
Pengujian flavonoid pada
beberapa sampel menunjukkan bahwa hasil dari analisa sampel memiliki kandungan
senyawa flavonoid yang cukup banyak, tetapi ada perubahan pada sampel yang
disimpan pada tempat gelap yang membentuk warna kuning gelap pada sampel daun
singkong dan merah pada daun papaya. Pada uji saponin menunjukkan bahwa sampel
yang memiliki kandungan saponin paling banyak terdapat pada sampel daun pandan
dengan kondisi penyimpanan beku, hal ini sesuai dengan teori bahwa daun pandan
banyak memiliki kandungan senyawa saponin didalamnya. Sedangkan pada daun
papaya dan daun singkong hanya sedikit kandungannya, hal ini terjadi karena
terhentinya reaksi metabolism pada daun papaya.
Uji fenol hidrokuinon
menunjukkan bahwa pada daun pandan terdapat senyawa bioaktif jenis fenol
hidrokuinon yang ditandai dengan warna hijau, sedangkan pada daun singkon dan
papaya tidak terdapat. Terbentuknya senyawa fenol hidrokuinon pada sampel
ditandai dengan terbentuknya warna hijau/hijau biru pada saat pengujian.
Sedangkan pada uji steroid menunjukkan bahwa tidak memiliki kandungan senyawa
bioaktif pada sampel yang diuji. Hasil uji steroid ditunjukkan dengan adanya
perubahan warna dari merah menjadi biru/hijau.
BAB 5
KESIMPULAN
Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum ini adalah
sebagai berikut :
- Proses penyimpanan pada masing – masing
perlakuan dapat menurunkan kandungan senyawa bioaktif pada setiap sampel
daun singkong, pandan dan pepaya.
- Uji alkaloid menunjukkan bahwa dengan
perlakuan penambahan pereaksi mayer memberikan hasil yang positif artinya
memiliki kandungan senyawa alkaloid pada masing – masing sampel.
- Adanya senyawa alkaloid ditandai dengan
adanya endapan putih kekuningan, dari setiap hasil sampel yang diuji.
- Perlakuan penyimpanan ruang gelap dapat
menyebabkan terjadinya kehilangan senyawa bioaktif seperti saponin.
- Hasil analisa uji steroid diperoleh bahwa
didalam daun singkong, pandan dan papaya tidak terkandung senyawa steroid.
DAFTAR PUSTAKA
Harborne, J.B. 2006. Metode Fitokimia cara modern Menganalisis
Tumbuhan.
Kosasih Pdma Winata. Bandung :
ITB.
Khopkar,S.M. 2003. Konsep
Kimia Analitik :UI Press,Jakarta.
Pitojo, S. 2011. Effect Of Increasing Surian Leaf
and Boiling Time From
Papaya Leaf of Quality Papaya Leaf Wet Noodle.Thesis.Universitas
Andalas. http://journal.universitasandalas.co.id diunduh
pada tanggal 26
Maret 2013.
Marina,
R. 2012. Potensi Daun Pandan (Pandanus
Amaryllifolius) dan Mangkokan (Notophanax
Scutellarium) sebagai Repelen Nyamuk Aedes
Albopictus. Balai Litbang P2B2 Ciamis, Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Jl. Raya Pangandaran Km. 3
Ciamis.
Poedjiadi. Anna & F.M Titin Supriyanti. 2009. Dasar-dasar
BIOKIMIA. Jakarta : UI-Press.
Redha, Abdi. 2010. Flavonoid: Struktur, sifat antioksidatif
dan peranannya
dalam sistem biologi. Jurnal Berlian Vol. 9. No. 2 september. 2010 196-
202.(respository.polnep.ac.id/xmlui/bitstream/handle/123456789/149/13.
Abadi.pdf)
0 komentar:
Post a Comment