Viralnya film dan atau potongan-potongan video Bu Tejo
adalah sebuah sinyal persetujuan dari para viewer sendiri bahwa karakter Bu
Tejo adalah karakter masyarakat kita, Bu Tejo adalah Kita! Begitu kira-kira
kalau dibawakan dalam bentuk orasi. Hidup Bu Tejo!
Bagaimana pendapatmu
tentang menyikapi setiap komentar orang lain terhadap hidup kita? Apakah itu
sangat membantu untuk perbaikan dan evaluasi kehidupanmu atau justru sebaliknya
menambah runyam dan membebani langkah maju yang lagi semangat-semangatnya?
Terlebih era
media sosial dewasa ini menunjukan perkembangan pola komunikasi yang kurang
baik antara satu orang dan orang lainya. Semua orang dapat dengan tiba-tiba
muncul dikehidupan orang lain tanpa kenal, tanpa dekat, dan tanpa tau secara
mendalam. Ujug - ujug muncul aja dikolom
komentar, heboh, menyudutkan, bullying, menyalahkan dan menghakimi. Singkatnya menjadi
yang merasa paling tau padahal tidak tau apa-apa.
Masih hangat diperedaran
pemberitaan media massa mengenai kasus Adhisty Zara dengan video
kontroversialnya yang beredar, ada andil yang begitu besar dari para netizen
yang membuat beberapa produk kosmetic memutus kontrak si Doi karena hebohnya
kasus ini loh.
Belum lagi
tentang peran netizen yang hampir buat seorang Kekeyi bunuh diri karena
berkali-kali menjadi korban bullying di media sosial maupun di kehidupan
nyatanya. Buat yang ketinggalan beritanya nih ada linknya gaes Link Berita Kekeyi
Disini posisi
gue bukan sebagai pihak yang mendukung atau membenarkan segala tindakan dari
artis-artis yang dibully diatas ya gaes. Posisi gue cuma sebagai pihak yang gak
habis fikir aja bahwa begitu banyak berkembang populasi orang-orang yang begitu
perduli dengan hidup orang lain.Tapi perdulinya bukan dengan memberikan bantuan sembako dan lain sebagainya.Melainkan untuk melakukan serangan verbal sebanyak mungkin pada sasaran.
Kombinasi antara
kepo dan nyinyir seperti menjadi sebuah ‘watak’ khas netizen
Indonesia. Ini sangat berbahaya loh gaes, pada berita link diatas, kekeyi hampir
bunuh diri loh karena ulah netizen yang sok maha tau segalanya.
Yang menyedihkan
adalah kecenderungan prilaku nyinyir dan kepo itu sudah mulai merebak dalam
sendi-sendi kehidupan nyata. Meskipun sejarah pergunjingan telah ada sejak
zaman sebelum masehi namun tingkatan dosisnya belum separah sekarang. Agaknya
viralnya film Tilik / Bu Tejo (https://www.youtube.com/watch?v=GAyvgz8_zV8)
bisa jadi gambaran kondisi terkini yang membenarkan sebuah ungkapan bahwa lisan
lebih tajam dari pada pedang.
Kebiasaan nyinyir
yang biasanya ada pada kaum ibu-ibu ternyata dapat digolongkan sebagai gangguan
kejiwaan. Nah loh! Sumbernya dari health liputan6.com, bahwa nyinyir bisa
jadi merupakan salah satu sifat dari orang yang mengalami gangguan kejiwaan
seperti gangguan kepribadian (personality disorder) atau bipolar (Link sumber berita)
 |
Sosok Bu Tejo (Source : Tribunnews.com)
|
Viralnya film dan
atau potongan-potongan video Bu Tejo adalah sebuah sinyal persetujuan dari para
viewer sendiri bahwa karakter Bu Tejo adalah karakter masyarakat kita, Bu Tejo
adalah Kita! Begitu kira-kira kalau dibawakan dalam bentuk orasi. Hidup Bu
Tejo!
Kemudian ,
bagaimana seharusnya respon kita terhadap fenomena tersebut? Dalam sebuah
perubahan setidaknya ada dua usaha yang bisa kita lakukan. Pertama adalah
berusaha untuk tidak menjadi bagian dari golongan yang nyinyir tersebut. Atau agar
mudah mengingatnya , jangan menjadi golongan bu Tejo.
Kedua ,
menyiapkan antibody jika posisi kita adalah sebagai korban ghibah atau korban
bullying seperti kekeyi dalam lampiran kisah diatas.
Landasan teorinya
adalah bahwa setiap perkataan orang lain terhadap diri kita apabila itu tidak
mengandung pesan yang membangun makan tinggalkanlah. Singkatnya masa bodoh amatlah!
Mark Manson
dalam bukunya yang berjudul The Subtle Art Of Not Giving F*ck yang sudah
diterjemahkan dalam bahasan Indonesia dengan judul : Sebuah seni untuk bersikap
Bodo amat, banyak menjelaskan tentang bagaimana sebaiknya kita merespon sesuatu
yang negatif dengan sikap bodo amat.
“ Inilah mengapa, bersikap masa bodoh, adalah
kuncinya. Inilah alasan mengapa itu menyelamatkan dunia. Dan kuncinya adalah
jika kita bisa menerima bahwa dunia ini benar-benar keparat dan itu tidak
apa-apa, karena memang seperti itu, dan akan seperti itu adanya. Dengan tidak
ambil pusing ketika Anda merasa buruk, berarti Anda memutus Lingkarang Setan;
Anda berkata pada diri sendiri, Saya merasa sangat buruk, tapi terus kenapa!
Apa pedulimu? ” –halaman 9”
Ada sebuah cerita
menarik yang mungkin anda pernah mebacanya, tapi mari kit abaca sekali lagi
untuk mengambil sebuah pelajaran :
Pasa suatu masa,
di sebuah negeri dikisahkan, ada dua orang anak beranak yang ingin pergi ke
suatu pasar untuk menjual seekor keledai. keadaan Bapak, Anak, dan keledai itu
serba tanggung. Bapak itu berumur agak lanjut, tetapi masih cukup kuat untuk
berjalan. Si Anak sendiri juga tanggung, ia adalah remaja yang belum dapat di
sebut dewasa, tetapi juga tidak dapat lagi dikatakan anak-anak. Sementara si
keledai, adalah keledai yang sehat kuat tetapi badannya beukuran agak kecil.
Pagi-pagi, berangkatlah mereka menuju pasar yang letaknya agak jauh dan harus
ditempuh dalam perjalanan setengah hari. Bapak dan Anak, dengan membawa bekal
makanan yang cukup untuk diperjalanan segera naik ke punggung keledai. Mereka
menaiki keledai itu selama beberapa jam, hingga akhirnya tiba di sebuah kampung
dengan kerumunan orang-orang. Demi melihat seekor keledai kecil dinaiki oleh
Bapak dan Anak itu, berbisik-bisiklah orang-orang itu. Kemudian salah satu dari
mereka berbicara.
“Hai, betapa
malangnya nasib keledai kecil itu. Ia harus menanggung beban dua orang
anak-beranak seperti kalian. Tidakkah kalian berpikir bahwa keledai itu bisa
saja menjadi sangat menderita selama dalam perjalanan kalian?”
Setelah
mendengar kata-kata orang kampung itu, akhirnya Si Bapak turun dari punggung
keledai. Mereka kemudian meneruskan perjalanan menuju pasar dengan Si Bapak
berjalan di samping keledai yang ditunggangi Si Anak. Mereka kembali berjalan
menyusuri jalan-jalan yang sepi hingga kemudian mereka tiba lagi di sebuah
kampung yang berbeda.
Di kampung ini,
mereka juga berpapasan dengan sekumpulan orang-orang yang berbisik-bisik. Si
Bapak dan anaknya sadar, bahwa orang-orang kampung itu sedang berbisik-bisik
membicarakan mereka. Lalu karena penasaran, bertanyalah Si Anak tentang apa
sebenarnya yang membuat mereka berbisik-bisik. Lalu salah seorang dari
kerumunan itu menjawab.
“Hai Anak Muda,
lihatlah Bapakmu yang berjalan di sisi keledai itu. Tidaklah pantas kamu duduk
di atas punggung keledai dengan santainya, sementara Bapakmu berjalan kaki di
sampingmu. Di mana otakmu sehingga engkau sedemikian tega terhadap Bapakmu?
Apakah kamu ingin menjadi anak yang tidak mempunyai rasa hormat dan kasih
sayang kepada orang tua?”
Si Anak
berpikir, lalu ia menyadari bahwa Bapaknya mungkin lebih pantas untuk duduk di
atas keledai. Dialah yang seharusnya berjalan kaki. Si Anak kemudian
turun dari punggung keledai, dan ia meminta Si Bapak untuk naik. Mereka
kemudian melanjutkan perjalanan menuju pasar. Si Anak kini berjalan bersisian
dengan keledai.
Beberapa saat
kemudian, tibalah mereka di sebuah kampung yang lainnya. Di sini mereka juga
bertemu dengan sekelompok orang. Orang-orang itu saling berbisik-bisik sambil
memandangi kepada Bapak, Anak, dan keledai itu. Karena rasa penasaran akan apa
yang dibisik-bisikkan oleh orang-orang itu, Si Bapak kemudian bertanya.
“Wahai
Saudara-Saudaraku, apakah gerangan yang kalian bisik-bisikkan? Adakah sesuatu
yang salah dengan kami?”
Salah seorang
dari penduduk kampung itu berkata.
“Di mana rasa
sayangmu terhadap anak itu? Anda bertubuh kuat, mengapa anak anda disuruh
berjalan? Sungguh kamu ayah yang keterlaluan.” Katanya dengan lantang,
sementara orang-orang lainnya mengiyakan.
“Duhai Saudara-Saudaraku,
tahukah kalian bahwa kami telah melewati beberapa kampung sebelumnya. Dan,
tidak ada satu carapun yang kami lakukan dianggap tepat. Kami berterima kasih
atas perhatian kalian kedapa kami.”
Setelah memohon
diri untuk melanjutkan perjalanan, Si Anak segera naik ke punggung keledai
bersama Si Bapak. Keduanya menyusuri jalan menuju pasar yang masih separuh
jalan. Ketika keledai kelelahan, mereka berhenti di sebuah pinggir danau dengan
pemandangan yang indah. Mereka membuka bekal makanan yang telah disiapkan dari
rumah, sementara keledai kecil itu merumput dengan senangnya dan minum dari air
danau dengan puasnya.
Message-nya adalah jangan
telan semua kata-kata orang gaes, bener kata Mark Manson, kita harus kuasai itu
seni untuk bersikap bodo amat. Harus begitu. Karena toh netizen tidak membiayai
hidup kita kan. Sikap bodo amat disini bukan berarti anti kritik ya gaes, tapi
lebih ke gimana kita menghidupkan filter yang baik dalam merespon setiap
masukan. Kayaknya segini dulu deh ya nanti dilanjut lagi gaes, tulisan ini
muncul karena adanya keresahan tentang pola kepoisme dan nyinyiersme dewasa ini
yang sangat meresahkan.
23 Agustus 2020
@ Tiger Island